Senin, 20 Agustus 2012

90cm

fotograf atolyesi


Aku tidak pernah diizinkan untuk mengumbar kata 'tidak' demi sebuah risalah yang telah terukir dalam kecemasan. Menerimanya, itu jauh lebih baik. Tapi bukanlah sebuah kemunafikkan bahwa perih itu tetap ada. Menangis juga sebuah pilihan, tapi tidak dengan sesal. Jangan salahkan nasi ataukah buburnya, karena ini bukanlah hal yang tepat untuk mencari-cari pembenaran ataukah siapa yang benar-benar tidak bersalah.

Aku tidak menganggapnya sebuah berkah, tapi tetap saja tidak beruntung. Seperti ini tentu saja tidak sulit, aku lebih mudah mengatakannya sukar, sukar saat hujan gosip mulai mereda dengan pandangan aneh. Ia, mereka merajut dalam garisan ekspresi 'aneh' saat melihat semua kelebihan dan keterbalikanku dalam diam.

Benci mengatakannya, tapi inikah aku yang akan aku terima apa adanya. Saat tulisan penuh warna tentang pelangi senja yang buram, sadarlah bahwa aku begitu berbeda. Aku seperti prenjak patah kaki di tengah bangau merah muda yang sedang berdansa. Tidak percaya sebenarnya dengan membuka-tutup mata untuk mengumpulkan keyakinan pahit bahwa semua akan baik-baik saja--aku lebih suka menyebutnya spekulasi dari pelarian dan rasa tidak percaya dan menolak keras, bahwa aku berbeda. Tidak, aku penuh dengan kontroversi.

Aku betina dari prenjak sial itu.. Dan tidak selayaknya bangau bohay di sana, aku begitu tenggelam, jatuh tergilas raksasa-raksasa anggun yang menolak berbagi rasa. Ya, aku betina dengan ukuran 90cm yang termaktub jelas dalam urat-saraf angin yang berbisik bahwa ia geli dengan keadaanku. 90cm, tanpa keturunan, tak akan pernah ada keturunan, dan tak ada bangau jantan gagah-gaduh-tangguh berminat denganku. Aku diam, mereka berlalu. Aku mencoba berteriak, berusaha menarik perhatian bahwa aku juga butuh cinta dari seorang lelaki sebagai jodohku, mereka buang muka. Inikah keadilan untukku?

Betina-betina binal itu telah mengerami telur yang telah disemaikan dalam percintaan di tepi labu siam seberang danau sana. Aku? 90cm adalah pertimbangan berat untuk mereka. Aku ikhlas menunggu, namun adakah juga yang ikhlas kunantikan? Saat tetangga-tetangga centil mulai bersolek dan bertemu dalam arisan dan dansa-dansa bersama pasangan dan anak-anak mereka kelak, sedangkan aku tak bisa ditanami benih dengan ukuranku. Membuatnya subur saja adalah sebuah ketidakniscayaan yang pahit untuk kerdilku. Jadi aku tidak memiliki keduanya, kedua cinta itu.. Cinta dari seorang suami yang akan kusambut dengan senyum hangat saat ia lelah pulang kerja lembur malam dan anak-cucu yang berlari-larian merusak tanaman mawar yang kupelihara di samping rumah. Aku tidak memiliki apapun.

Tidak ada cinta untukku pada akhirnya. Yang tersisa hanya keikhlasan ini. Cukuplah aku menangisinya semalam, menangisi yang sudah-sudah. Tidak ada kata-kata klise tentang kesabaran dan juga 'ujian Sang Penyayang kepada hambaNya yang tidak akan susah-susah amat'. Ini bukanlah tentang sejauh mana aku menjalani ujian menyebalkan itu. Ini adalah tentang aku dengan ukuran 90cm tanpa sebuah rahim dan juga cinta, bahwa bagaimana aku bisa menutup mata dan terbangun esok harinya untuk tersenyum demi menawarkan hidup yang begitu pahit. Demi Penguasa malam-malam yang berat, aku ikhlas untuk itu.

Jadi, yang bisa kulakukan dan kuharapkan adalah tetap berharap, dan juga menunggu. Hanya saja, sendiri itu memang tidak menyenangkan. Tapi biarlah, toh Ia telah menantikanku dengan aroma firdaus yang masih konon kabarnya telah Ia siapkan untukku, seperti halnya Zulaikha yang telah dijanjikan Tuhan untuk Yuzarsif dengan kebutaannya, aku masih menunggu, menunggu dalam kelam pada sebuah ikatan yang melebihi wanita-wanita dimadu di ujung sana. Aku menantikan Firdausku sendiri, dalam sebuah kesederhanaan, ialah Ikhlas. Aku ikhlas..

12 komentar:

  1. Aheek, sejauh ini saya cuma mengerti kalau seorang lelaki sedang menunggu seorang perempuan.
    aiih sotta'

    BalasHapus
    Balasan
    1. banget sotta'nya dehh.. hhee :p
      baca baik2 yahh

      Hapus
  2. semua kosakata yang jarang digunakan tumpah ruah disini.. banjir diksi.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih telah berkunjung... saya masih belajar.. :)

      Hapus
  3. hmm, aku pikir awalnya ini cuap-auap ternyata ini fiksi. menarik..!!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, makasihh.. blog baru soalnya, jadi masih bingun menemukan jati diri *eehh*

      any way, thanks udah berkunjung.. :)

      Hapus
  4. I think u deserve someone who will love u for who u're, someone wh's willing to do anything and everything just to put a smile on ur face.
    Someone who u're able to talk to when u're feeling down, someone who can cheer u up. Someone who won’t judge u, or change u just so u become what they have always wanted.
    *sigh slowly to the "prenjak"

    Hmm, coz u're special just the way u're..cemunguudhh...#apasih :P

    BalasHapus
    Balasan
    1. welcome,, kita adalah penggenggam hujan yang bangga di bawah rintiknya.. :))

      gamblang saja kuucapkan, tulisan ini untuk seorang teman, ia adalah akhwat yang hidup dengan penuh semangat dan juga ikhlas dengan keterbatasannya, 90cm.. Ia memaknai hidup dengan tidak apa yang kita pikirkan.. Berbeda.. dan juga tentu penuh cinta terhadapnNya.. dan rasa syukur.. :')

      saya iri padanya, jujur..

      Hapus
  5. nice post :)
    ditunggu kunjungan baliknya yaah ,

    BalasHapus
  6. baca2 postingan di blog ini harus minimal 2 kali baca baru nangkep maknanya *maklum*...follow dlu deh nanti mampir lagi ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. thanks... untuk sementara hanya bisa bilang ini :)

      Hapus